NoFollow atau Dofollow : Sebuah Dilema

17 April 2010 · oleh mastanto

pilih-dofollow-atau-nofollowMemiliki blog dofollow memang enak. Begitupun juga dengan blog yang keukeuh mempertahankan ke-nofollow-an blognya. Tidak bisa dipungkiri memang, blog dofollow menguntungkan. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan menjadikan blog dofollow.  Tapi tidak selamanya blog dofollow itu terus menguntungkan. Mengapa?Saya merasakan sendiri. Blog dengan kondisi dofollow memang ‘menguntungkan’. Bagi siapa? Yok dianalisa :

  1. Blog dofollow cenderung jadi sasaran komentar
    Blog dengan paham ini menjadi incaran para pemburu backlink gratisan (one way backlink yang dipercaya ampuh mendongkrak PR). Dengan kata lain, semakin banyak juga komentar asal alias spam. Sama sekali tidak sesuai topik yang sedang dibicarakan. Lebih pada prongosi blog mereka sendiri :-w
    Secara finansial sekilas memang menyenangkan, karena banyak komen. Tapi???
  2. Paham dofollow dibenci Google, karena mbah Google cenderung lebih lama dalam mengindex link (dalam kasus ini, link di masing-masing komentar juga di cek/ dijelajahi oleh Google). Kalau dalam bahasa Jawanya ‘mindon gaweni’ alias membuat mbah Google dua kali kerja. Keuntungannya, kembali pada peblogger yang berkomentar. Mereka dapat kunjungan dari Google lagi. Sementara si pemilik blog bisa dikatakan harus tetap bersaing dengan pesaing sebenarnya melalui SEO dan keyword.
  3. Bagaimana dengan pernyataan ‘pemilik blog dofollow PRnya susah naik’?
    Tunggu dulu. Web ini menganut dofollow dan dalam waktu kurang lebih 2 bulan sudah bisa mengantongi ‘PR’. Lalu susahnya dimana? Mari kita simak terlebih dahulu. Pertama, web ini waktu itu masih dalam keadaan kurang terkenal. Kedua, saya sudah menyebarkan link web ini di banyak tempat. Ketiga, komentator masih sedikit atau bisa dikatakan belum ada. Keempat, -apa lagi ya?- faktor luck mungkin. Kelima, web ini saya usahakan SEO friendly. Jadi seharusnya, memang tidak sulit untuk mendapatkan status PR pada bulan ketiga web ini dirilis.

    Yok kita kembali berandai andai lagi.

    Mari berasumsi bahwa web ini sudah ‘terkenal’ atau sudah memiliki komentator. Catatan : dengan menganut paham dofollow, maka setiap link di komentar merupakan sebuah link keluar (outlink = link yang ke web lain). Sebuah status PR bisa naik ketika Google mendapati backlink/ inlink dari web/ blog lain (link yang mengarah ke blog/ web kita), lebih banyak daripada outlink yang ada pada web/ blog tersebut. Dengan demikian, jika web saya waktu itu sudah terkenal dan mempunyai komentar banyak, ada dua kemungkinan yang bisa saya dapatkan. PR susah naik ataupun malah turun.

Nah,, dari analisa sedikit di atas, silahkan simpulkan sendiri sendiri. Mana yang menguntungkan. Toh tetap… pilihan akhir ada pada user :) Tapi, dengan berat hati saya ingin berhenti dari dofollow.. :”>

15 Komentar to “NoFollow atau Dofollow : Sebuah Dilema”

  1. firyan on 17th April 2010 1:17 pm

    pertamax! insya Allah klo serius ngeblognya gak ngaruh sama komentator. soalnya bahasanya ramah dan infonya Alhamdulillah berguna. ane sendri gak ngincer backlink soalnya gak ikut nyari duit lewat blog :p

    mas tanto :

    Hehehehe,, selamat udah jadi pertamax :D
    Yaa makanya itu, saya bilang semuanya dikembalikan kepada usernya :D Keputusan mutlak pada pemilik blog :D

  2. tukang colong on 18th April 2010 1:34 am

    :(|) dofollow itu apa?

    mas tanto :

    Mungkin bisa ke postingan saya yang berjudul U Comment I Follow, Backlink, Pagerank :) Gut lak :D

  3. tukang colong on 18th April 2010 1:35 am

    gimana cara biar blog kita bisa dofollow?3:-o

    mas tanto :

    Jawabnya sekalian di atas tadi yah heheheh :D

  4. Bung Eko on 22nd April 2010 5:04 am

    Justru dengan menjadi nofollow jadi lebih mudah mencari tahu mana blogger yang serius menjalin relasi dengan yang cuma mau memanfaatkan blog kita untuk ladang spam. So, tetaplah menjadi nofollow, Bung. Saya dukung. :D

    mas tanto :

    Yap. bener sekali. Memang lebih banyak untungnya kalo dipikir pikir make blog nofollow. Kalo make dofollow, hampir gak ada enaknya bang. Tapi, sebenernya gak masalah juga sih, nofollow ato dofollow. Toh yang penting tetep ‘berbagi informasi’-nya yang lebih dipentingkan, meskipun tetep punya gengsi kalo punya rank :D

  5. iskandaria on 23rd April 2010 3:13 am

    Saya mantan penganut do follow yang sudah tobat mas :D

    mas tanto :

    Heheheii :D Ternyata kita sama sama eks-do follow :D

    Saya tobat aja, tapi masi tetep berburu yang masih pada dofollow ;))

  6. eric di jogja on 23rd April 2010 3:27 pm

    :) kirain mau nganjurin untuk berubah menjadi dofollow he he h…:D saya ada juga blog yang do follow … dalam 3 bln pr dah 3… :) trusss … terjun ke O :(( dan salah satu postingan yang gak ada komentarnya malah prnya 3 … :o

    mas tanto :

    Hehehe.. malah hebat tuh mas :D Jarang jarang lho kayak gitu :D

  7. Ramdhan on 3rd May 2010 12:15 am

    makasih infonya mas, sangat bermanfaat sekali khususnya buat pemula seperti saya ini

  8. unksenna on 27th May 2010 2:52 am

    semua adalah hak kita mau no/dofollow

  9. unirow on 2nd June 2010 12:09 pm

    karena q ga’ pernah ngerti tentang nofollow juga ga’ pernah merubah source code, mgkn blogq nofollow, tapi kurang yakin juga, mungkin saja sudah dofollow….
    bingung jadinya…
    tapi saya setuju dofollow ja…
    hidup blogger

    Blogger pemula dari tuban

KOMENTAR




:) :( :D :malu: :(( :yiihaa: :x 8-| /:) :o :-? :siul: :-w ;) [-( :pismen: more »

Spam protection by WP Captcha-Free

Status

  • My Feed Counter