NoFollow atau Dofollow : Sebuah Dilema
Memiliki blog dofollow memang enak. Begitupun juga dengan blog yang keukeuh mempertahankan ke-nofollow-an blognya. Tidak bisa dipungkiri memang, blog dofollow menguntungkan. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan menjadikan blog dofollow. Tapi tidak selamanya blog dofollow itu terus menguntungkan. Mengapa?Saya merasakan sendiri. Blog dengan kondisi dofollow memang ‘menguntungkan’. Bagi siapa? Yok dianalisa :
- Blog dofollow cenderung jadi sasaran komentar
Blog dengan paham ini menjadi incaran para pemburu backlink gratisan (one way backlink yang dipercaya ampuh mendongkrak PR). Dengan kata lain, semakin banyak juga komentar asal alias spam. Sama sekali tidak sesuai topik yang sedang dibicarakan. Lebih pada prongosi blog mereka sendiri
Secara finansial sekilas memang menyenangkan, karena banyak komen. Tapi??? - Paham dofollow dibenci Google, karena mbah Google cenderung lebih lama dalam mengindex link (dalam kasus ini, link di masing-masing komentar juga di cek/ dijelajahi oleh Google). Kalau dalam bahasa Jawanya ‘mindon gaweni’ alias membuat mbah Google dua kali kerja. Keuntungannya, kembali pada peblogger yang berkomentar. Mereka dapat kunjungan dari Google lagi. Sementara si pemilik blog bisa dikatakan harus tetap bersaing dengan pesaing sebenarnya melalui SEO dan keyword.
- Bagaimana dengan pernyataan ‘pemilik blog dofollow PRnya susah naik’?
Tunggu dulu. Web ini menganut dofollow dan dalam waktu kurang lebih 2 bulan sudah bisa mengantongi ‘PR’. Lalu susahnya dimana? Mari kita simak terlebih dahulu. Pertama, web ini waktu itu masih dalam keadaan kurang terkenal. Kedua, saya sudah menyebarkan link web ini di banyak tempat. Ketiga, komentator masih sedikit atau bisa dikatakan belum ada. Keempat, -apa lagi ya?- faktor luck mungkin. Kelima, web ini saya usahakan SEO friendly. Jadi seharusnya, memang tidak sulit untuk mendapatkan status PR pada bulan ketiga web ini dirilis.
Yok kita kembali berandai andai lagi.Mari berasumsi bahwa web ini sudah ‘terkenal’ atau sudah memiliki komentator. Catatan : dengan menganut paham dofollow, maka setiap link di komentar merupakan sebuah link keluar (outlink = link yang ke web lain). Sebuah status PR bisa naik ketika Google mendapati backlink/ inlink dari web/ blog lain (link yang mengarah ke blog/ web kita), lebih banyak daripada outlink yang ada pada web/ blog tersebut. Dengan demikian, jika web saya waktu itu sudah terkenal dan mempunyai komentar banyak, ada dua kemungkinan yang bisa saya dapatkan. PR susah naik ataupun malah turun.
Nah,, dari analisa sedikit di atas, silahkan simpulkan sendiri sendiri. Mana yang menguntungkan. Toh tetap… pilihan akhir ada pada user
Tapi, dengan berat hati saya ingin berhenti dari dofollow.. :”>
15 Komentar to “NoFollow atau Dofollow : Sebuah Dilema”
KOMENTAR




pertamax! insya Allah klo serius ngeblognya gak ngaruh sama komentator. soalnya bahasanya ramah dan infonya Alhamdulillah berguna. ane sendri gak ngincer backlink soalnya gak ikut nyari duit lewat blog
mas tanto pada April 17th, 2010 :
Hehehehe,, selamat udah jadi pertamax
Keputusan mutlak pada pemilik blog 
Yaa makanya itu, saya bilang semuanya dikembalikan kepada usernya
mas tanto pada April 18th, 2010 :
Mungkin bisa ke postingan saya yang berjudul U Comment I Follow, Backlink, Pagerank
Gut lak 
gimana cara biar blog kita bisa dofollow?
mas tanto pada April 18th, 2010 :
Jawabnya sekalian di atas tadi yah heheheh
Justru dengan menjadi nofollow jadi lebih mudah mencari tahu mana blogger yang serius menjalin relasi dengan yang cuma mau memanfaatkan blog kita untuk ladang spam. So, tetaplah menjadi nofollow, Bung. Saya dukung.
mas tanto pada April 22nd, 2010 :
Yap. bener sekali. Memang lebih banyak untungnya kalo dipikir pikir make blog nofollow. Kalo make dofollow, hampir gak ada enaknya bang. Tapi, sebenernya gak masalah juga sih, nofollow ato dofollow. Toh yang penting tetep ‘berbagi informasi’-nya yang lebih dipentingkan, meskipun tetep punya gengsi kalo punya rank
Saya mantan penganut do follow yang sudah tobat mas
mas tanto pada April 24th, 2010 :
Heheheii
Ternyata kita sama sama eks-do follow 
Saya tobat aja, tapi masi tetep berburu yang masih pada dofollow
mas tanto pada April 24th, 2010 :
Hehehe.. malah hebat tuh mas
Jarang jarang lho kayak gitu 
makasih infonya mas, sangat bermanfaat sekali khususnya buat pemula seperti saya ini
semua adalah hak kita mau no/dofollow
karena q ga’ pernah ngerti tentang nofollow juga ga’ pernah merubah source code, mgkn blogq nofollow, tapi kurang yakin juga, mungkin saja sudah dofollow….
bingung jadinya…
tapi saya setuju dofollow ja…
hidup blogger
Blogger pemula dari tuban